Alamat
Jl. Ali bin Abi Thalib No.18, RT.005/RW.004, Karyamulya, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat 4513

Sabar kedudukannya sangat tinggi dalam islam, bahkan merupakan salah satu syarat mutlak bagi seorang pemimpin ideal menurut Alloh. Siapa saja yang dapat bersabar berarti ia telah mendapatkan taufik berupa kebaikan dan kebahagiaan yang hakiki. Alloh Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan kami jadikan antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang diberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajadah: 24)
Namun sudahkah kita memahami hakikat kesabaran dengan benar?
Bagaimana caranya agar kita memiliki karakter mulia ini?
APA ITU SABAR?
Makna dasar kata sabar secara bahasa adalah mencegah dan menahan. Secara istilah sabar adalah mengusai diri dalam mengerjakan atau meninggalkan sesuatu semata karena mengharap ridha Alloh Ta’ala.1
Alloh Ta’ala berfirman:
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka.” (Al Kahfi: 28).
Hakikat Sabar
hakikat sabar adalah sebuah akhlaq mulia diantara akhlaq-akhlaq jiwa yang membentenginya dari melakukan apa yang tidak baik dan tidak patut. Ia adalah suatu kekuatan dari kekuatan-kekuatan jiwa yang dengannya kebaikan terwujud dengan tegak.
Al-Junaid bin Muhammad رحمه الله ditanya tentang sabar, dia menjawab, “sabar adalah menelan kepedihan tanpa bermuka masam.”
Amr bin Utsman al-Makki رحمه الله berkata, “Sabar adalah keteguhan dalam meyakini (pertolongan) Alloh dan menerima ujianNya dengan dada yang lapang dan tentram.”
Maknanya adalah, hamba menerima ujian dengan lapang dada, tidak dikotori kesempitan, kemarahan, dan keluh kesah.
Jiwa memiliki dua kekuatan: kekuatan progresif dan kekuatan posesif. Hakikat sabar adalah menjadikan kekuatan progresif untuk suatu yang bermanfaat, sedangkan kekuatan posesif dipakai untuk kekuatan yang membahayakan.
Ada yang berkata, sabar adalah keteguhan yang muncul dari akal dan agama dalam menghadapi dorongan hawa nafsu dan syhawat. Ini berarti bahwa tabiat manusia mengajak kepeda apa yang dia sukai, sedangkan dorongan akal dan agama berusaha mencegahnya.
Perbedaan tingkatan-tingkatan derajat sabar
Sabar, sebagaimana yang sudah dijelaskan, terbagi menjadi dua: Sabar secara sukarela dan sabar karena terpaksa.
Sabar sukarela lebih sempurna daripada sabar terpaksa, karena sabar secara terpaksa dimiliki oleh semua manusia dan dilakukan oleh orang yang tidak memiliki sabar sukarela.
Seperti kisah sabarnya Nabi Yusuf عليه السلام terhadap rayuan istri al-aziz dan sabarnya dalam menerima akibatnya berupa dipenjara, lebih besar dibandingkan sabar nya Nabi Yusuf عليه السلام terhadap apa yang diterima dari saudara-saudaranya saat mereka memasukanya kedalam sumur dan memisahkan dengan bapaknya, lalu mereka mejual layaknya budak.
Alloh Ta’ala berfirman:
فَٱصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْعَزْمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ
”Maka bersabarlah engkau (wahai Rasul), sebagaimana rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati telh bersabar.” (Al-Ahqaf: 35).
Ibnu Taimiyyah pernah berkata. “Sabar dalam melaksanakan ketaatan lebih baik daripada sabar menjauhi hal-hal yang haram. Karena kemaslahatan melakukan ketaatan lebih disukai Alloh dari pada kemaslahatan meninggalkan kedurhakaan, dan keburukan tidak lebih dibenci Alloh dari pada keburukan adanya kedurhakaan.
Pembagian Sabar Menurut Tempatnya
Sabar ada dua: Sabar raga dan jiwa. Masing-masing dari keduanya terbagi menjadi dua, yaitu sukarela dan terpaksa. Jadi ada empat bagian.
Pertama: Sabar raga yang dilakukan secara sukarela, seperti seseorang yang memikul beban pekerjaan yang berat atas keinginan dan kerelaannya sendiri.
Kedua: Sabar raga yang terpaksa, seperti sabar menerima rasa sakit, luka, dingin, panas, atau yang sepertinya.
Ketiga: Sabar jiwa secara sukarela, seperti sabarnya jiwa untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak patut dilakukan dari sisi syariat dan akal.
Keempat: Sabar jiwa yang terpaksa, seperti sabar menghadapi pahitnya perpisahan dengan orang yang dicintai saat dia harus pergi.
Pembagian Sabar
- Sabar pada takdir dan keputusan Alloh Ta’ala sehingga tidak murka terhadap nya.
- Sabar dalam menjauhi larangan-larangan dan penyimpangan-penyimpangan sehingga tidak terjatuh ke dalamnya.
- Sabar dalam menjalankan perintah-perintah dan ketaatan-ketaatan hingga sukses menunaikanya.
Sabar Adalah Setengah Iman
Iman itu ada dua bagian: setengah nya adalah sabar dan setengah nya lagi adalah syukur.
Beberapa salaf berkata, “sabar itu setengah iman.”
Abdulloh bin Mas’ud رضي الله عنه berkata, “Iman memiliki dua bagian: setengah nya adalah sabar dan setengah nya lagi adalah syukur.”
Karena itu Alloh menyatukan sabar dan syukur dalam firman-Nya,
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ
”sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kuasa Alloh) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (Ibrahim: 5).
Beberapa pertimbangan yang menjadikan sabar adalah setengah dari iman:
- Iman mencakup perkataan, perbuatan, niat (hati) dan ia kembali kepada dua bagian pokok; melakukan dan meninggalkannya. Yang pertama adalah mentaati Alloh dan ini hakikat syukur, sedangkan yang kedua adalah sabar dalam meninggalkan kemaksiatan.
- Iman berpijak kepada dua pilar utama: Yakin dan sabar. Keduanya adalah dua pilar yang disebutkan dalam Firman Alloh Ta’ala,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ
”Dan Kami jadikan di atara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami saat mereka bersaba. Merekaa meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajadah: 24).
- Iman adalah perkataan dan perbuatan. Perkataan hati dan lisan, sedangkan pebuatan adalah perbauatan hati dan anggota badan.
- Jiwa memiliki dua kekuatan: Kekuatan progresif dan kekuatan posesif. Jiwa melakukan apa yang ia inginkan dan menahan diri dari apa yang ia benci. Agama seluruhnya adalah melakukan dan menahan diri dari kemaksiatan; masing-masing dari keduanya tidak bisa diwujudkan kecuali dengan kesabaran
- Agama seluruhnya adalah harapan dan kekhawatiran. Seorang Mukmin senantiasa berharap (rahmat Alloh) dan merasa khawatir (akan hukuman-Nya).
Alloh Ta’ala berfirman,
إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ
”Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.” (Al-Anbiya’: 90).
- Apa yang dilakukan hamba di dunia ini tidak lepas dari yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat, atau apa yang merugikannya di dunia dan akhirat, atau bermanfaat pada salah satu sisi dari keduanya dan merugikan pada sisi yang lainnya.
- Seorang hamba tidak terlepas dari perintah yang harus dikerjakan atau larangan yang harus ditinggalkan serta takdir yang berlaku atasnya, dan ketiganya memerlukan kesabaran dan syukur.
- Pada diri seorang hamba ada dua penyeru: pertama, penyeru kepada dunia, hawa nafsu, dan kesenangannya. Kedua, penyeru kepada Alloh dan Akhirat.
- Agama bertumpu pada dua poros: Tekad dan keteguhan. Keduanya merupakan dasar utama yang disebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa’i, dari Nabi صلىالله عليه وسلّم, bahwa beliau bersabda,
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْألُكَ الثَّبَاتَ فِي الأَمرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ.
“Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon kepadaMu keteguhan dalam melaksanakan perintah dan tekad kuat diatas jalan lurus.”
(Lihat al musnad, 4/123-125; an-Nsa’i, no. 1304; dan at-Tirmidzi, no.3407)
- Agama berpijak kepada dua dasar utama: Kebenaran dan kesabaran, dan keduanya disebutkan dalam Firman Alloh Ta’ala,
وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
”Dan saling menasihatilah untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
(Al-Ashr: 3).
Beberapa Tips Untuk Bersabar
Kesabaran harus dilatih dan ditingkatkan agar semakin baik. Beberapa tips berikut ini semoga bisa membantu kita agar lebih bersabar.
- Menyadari hakikat kehidupan, bahwa dunia ini memang tempat ujian Alloh.
- Menyadari bahwa segala sesuatu yang ada pada kita hakikatnya adalah milik Alloh Ta’ala. Bisa saja Alloh mengambilnya kembali dari kita pada waktu yang ia kehendaki.
- Meyakini dengan sepenuh hati pahala kebaikan yang telah Alloh siapan untuk orang-orang yang sabar.
- Yakin dengan sepenuhnya bahwa Alloh Ta’ala pasti akan memberi jalan keluar, cepat atau lambat.
- Selalu meminta pertolongan Alloh Ta’ala agar kita dijadikan sebagai hamba yang bersabar. Siapapun yang meminta pertolongan kepada Alloh, maka Alloh pasti akan menolongnya
- Mengikuti jejak orang-orang saleh yang telah bersabar dengan sebenarnya.
- Meningkatkan keimanan pada takdir Alloh Ta’ala. Dan ini adalah rukun iman yang ke enam.
Refrensi :
– Buku serial dasar islam
– Mukhtasor Uddatush Shabirin wa Dzakhirotusy Syakirin (imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah حمهالله ) di intisarikan oleh Dr. Ahmad Utsman al-Mazyad
– Madarijus Salikin (Ibnu Qoyyim حمهالله )
– Minhajul Qasidin (Ibnu Qudamah al-Maqdisy حمه الله )




